Semangat dan Berjuang


Al-Furqon. Seperti halnya mesjid pada umumnya sebagai tempat beribadah umat muslim yang selalu ramai dipenuhi orang-orang untuk beribadah. Al-Furqon sebagai satu-satunya mesjid yang ada di kampusku juga memiliki suasana yang sama. Sore ini aku tengah menjadi bagian dari keramaian itu. Di pelataran mesjid Al-Furqon, mahasiswa banyak bergerombol  dalam lingkaran-lingkaran kecil, kebanyakan dari mereka mengatasnamakannya rapat organisasi. Entah apa yang mereka perbincangkan-kurasa sesuatu yang menyenangkan karena terlihat tawa dan senyum meliputi mereka.

Tak seperti yang lainnya, di sisi  tempat aku berada ini sangat kontras dengan keadaan di sekitarnya. Di sini tak ada senyum dan tawa, yang ada hanya sebuah keprihatinan. Bila kumpulan yang lain dapat membentuk lingkaran sempurna begitu indahnya, di sudut Al-Furqon ini hanya ada aku, seorang teman dan teman lainnya, hanya mampu membentuk sebuah segitiga. Inilah suatu keprihatinan. Di satu sisi kami mengatasnamakan kumpulan ini sebagai suatu organisasi. Namun lihatlah, apa yang bisa dilakukan sebuah organisasi dengan partisipasi anggota yang sangat memprihatinkan seperti ini, ironis sekali.

“Allah tak akan memberi ujian yang tak sebanding dengan kemampuan umat-Nya”

Itu makna dari ayat yang dibacakan seorang dari kami untuk membuka kumpulan ini. Entah mengapa kurasa ia tengah menggambarkan isi hatinya melalui ayat tersebut, mungkin sekedar untuk menghibur hatinya saat itu, aku tak tahu.

Di sini, entah aku yang salah tempat atau memang kondisinya yang harus seperti ini, karena sebenarnya harusnya aku tidak di sini, kebetulan saja aku diminta menggantikan salah seorang petinggi organisasi ini untuk menghadiri rapat kumpulan demi mempersiapkan acara vital yang menjadi pertaruhan nasib organisasi kami. Ya, beberapa hari lagi organisasi ini akan mengadakan pengkaderan demi mencari penerus yang siap melanjutkan perjuangan. Perjuangan, sebuah kata yang belum kumengerti maknanya, mungkin karena aku jarang bersentuhan langsung dengan euphoria kegiatan organisasi ini.

Entahlah, aku tak tahu apa yang tengah menyelimuti dua orang yang ada di hadapanku, sepertinya sebuah konflik yang lebih banyak melibatkan pikiran mereka masing-masing. Dari pembicaraannya, aku tahu ada sesuatu yang tak berjalan dengan baik, namun aku tak tahu persis seburuk apakah itu.
Dihadapanku, seorang perempuan yang begitu cerah mukanya. Tadi ia datang dengan penuh senyum mengembang di wajahnya, menyambutku dengan ramahnya, walaupun kami baru pertama kali bertemu saat itu. Segera setelah ia datang, rapat pun dimulai. Agenda saat itu adalah laporan tiap divisi mengenai persiapan pengkaderan. Aku datang ke sini tanpa persiapan, hanya diminta untuk menggantikan tanpa tahu apa yang sebenarnya harus kulakukan, sudah kubilang dari awal aku memang tak mengerti apa ini, jadi aku hanya diam. Diam mendengarkan untuk mencoba mengerti, diam agar tak mengganggu, agar tak memperkeruh kondisi.

“Kenapa bisa belum mengajukan izin acara ? Buat apa kita repot-repot menyusun segalanya sekarang, kalau izin acaranya pun belum dapat, bisa-bisa bubar semuanya”, ucap seorang dari mereka, menatap lurus seorang yang lainnya, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Ada kekecewaan yang mendalam di sana.

“Saya sudah coba mengusahakan, tapi memang kenyataannya seperti itu”, ucap perempuan bermuka cerah  itu mencoba memberi pengertian.

“Saya kan sudah mengingatkan jauh-jauh hari, kalaupun tidak sempat, kamu bias suruh orang lain untuk menggantikan, walaupun tidak bias berkumpul untuk berkoordinasi, Insya Allah mereka siap dan sanggup, atau kamu bisa minta tolong saya”.

Perempuan bermuka cerah itu hanya bisa menunduk, mencoba menyembunyikan sesuatu dari wajahnya. Aku terdiam, mencoba berbaur dengan atmosfer yang seketika berubah menjadi kelam. Di sekitar, sayup-sayup gelak tawa masih terdengar, semakin terasa miris melihat kondisi kami di sini yang tengah bergulat dengan pikirannya masing-masing. Hening, sepi, dan penuh teka-teki. Entahlah, aku tak tahu apa yang mereka pikirkan dalam keheningan ini.

Hening bukan berarti tanpa makna, bukan berarti tanpa cerita. Justru dari keheningan inilah aku bisa melihat semuanya. Aku bisa membaca semuanya. Sebenarnya yang hadir di sini, di kumpulan ini, bukanlah sebuah keprihatinan, bukan. Bukan masalah eksistensi dari seseorang, seperti yang kukira sebelumnya, bukan. Tapi inilah yang mereke sebut perjuangan. Sebuah kata yang mulai kumengerti setelah aku berada di tengah-tengah mereka kini.

Dari balik laptopku - aku sengaja bersembunyi dibaliknya karena aku merasa berada di waktu dan tempat yang kurang tepat saat itu - , berada di tengah-tengah konflik yang ku tak tahu apa. Kulihat perempuan bermuka cerah itu masih menunduk, berjuta tanya menggelayuti pikiranku, kucoba menerka setiap ekspresi wajahnya, mencoba menyelami sorot matanya yang berpendar kelam. Sesekali kulihat tubuhnya bergetar menahan sesuatu, mungkin ia mencoba menahan bulir jernih itu terjatuh dari matanya, entahlah. Aku tahu sebenarnya mereka punya misi yang sama, memperjuangkan organisasi ini demi menjunjung tinggi dakwah bil qolam, menunjukkan betapa indahnya islam kepada seluruh dunia, sungguh mulia. Aku tahu mereka tidak kemana-mana, tetap berada di lingkaran itu, namun mungkin waktu serta kondisi yang membuat masing-masing harus memutuskan prioritas, tak apalah toh kami masih berada di lingkaran.

Dalam keheningan aku mencoba mengumpulkan kembali puzzle memori dalam otakku, mengingat potongan-potongan cerita tentang organisasi ini. Sejak pertama aku ada di sini, satu hal yang selalu kutemukan, satu hal yang selalu kurasakan, satu hal yang begitu jelas terlihat, dan satu hal itulah yang kukenal sebagai semangat. Alasan yang membuatku kini tetap berada di sini. Semangat itulah yang selalu melingkari mereka. Ya, aku tidak menemukannya hanya pada seorang saja, tidak, tapi seluruhnya.

Aku selalu tertarik pada cerita orang-orang yang berjuang mencapai impiannya, bagaimana mereka susah payah mewujudkan mimpinya, bagaimana mereka terpaksa jatuh tapi kemudian bangkit kembali meneruskan perjuangan, dan selalu tertarik dengan semangat yang mereka sebar pada orang sekitarnya. Dulu aku hanya bisa membaca itu dari kisah-kisah motivasi di dalam buku, tapi kurasa aku bisa menemukannya di sini. Melihat mereka memperjuangkan organisasi ini hingga menjadi UKM resmi di kampus sungguh sesuatu yang luar biasa, ‘like dream comes true’ - aku selalu suka kata-kata itu. Ya, aku tahu perlu melewati banyak sekali rintangan untuk bisa sampai di sini dan aku juga tahu masih banyak rintangan di depan nanti yang harus dihadapi, tapi tak perlulah khawatir. Lihat, bayi yang masih merangkak ini punya orang-orang yang siap merawat dan membesarkannya. Orang-orang yang bahkan membuatku iri karena tak bisa memiliki semangat seperti mereka. Orang-orang yang dengan tulus hatinya mengagungkan nama-Nya di setiap goresan tinta mereka. Orang-orang yang dengan untaian katanya menunjukkan betapa indahn agama-Nya. Sungguh menyenangkan bisa berada di tengah-tengah mereka :)



3 comments:

  1. Eltin..., jadi terharu bacanya... :'(

    Dari segi penulisan, Eltin dah rapi sekali bahasanya... Kamu selalu saja diam-diam menghanyutkan... :D

    ReplyDelete
  2. alhamdulillah, makasih kang.
    waaa kenapa banyak yang nyebut gitu ya...ha

    ReplyDelete
  3. teh eltin ini Al-Qolam bangett...
    semangat Al-Qolam makin hari terlihat dari pribadi teteh :D
    alhamdulillah..

    ReplyDelete

Copyright © 2013 Free your mind ! and Blogger Templates - Anime OST.